Pameran COMFORT WOMEN

TEMPAT: Galeri KEN AROK, Perpus Kota Malang
Waktu: 9 Januari 2012 – 18 Januari 2012
PEMBUKAAN: Senin, 9 Januari 2012 pkl. 10.30
DISKUSI: Rabu, 11 Januari 2012 pkl. 14.30

Malang Meeting Point (mamipo) menyelenggarakan pameran foto bertajuk Comfort Women, karya fotografer Belanda, Jan Banning. Pameran ini akan mempresentasikan 18 karya-karya foto potret dari para mantan jugun ianfu beserta kisah testimoninya. Berikut adalah pengantar yang ditulis oleh Hilde Jansenn:

Jugun Ianfu

‘Saya pengen wajah saya jelek, karena yang terlihat jelek Jepang nggak mau. Mereka  dipulangkan. Saya harus tinggal…Saya dipilih terus.  Sesudah tamu yang satu pulang ada lagi, datang lagi. Giliran.’

Emah berumur 15 tahun pada waktu dia diambil paksa dari rumahnya oleh tentara Jepang. Ada kawan senasibnya yang lebih muda lagi. ‘Jugun ianfu’ atau ‘wanita penghibur’ mereka dipanggil secara eufemistis. Perempuan Indonesia yang usia muda, menjadi korban kerjapaksa seksual pada zaman Perang Dunia Kedua. Masih remaja pada waktu itu, sekarang nenek-nenek. Rasa malu, stigma dan perasaan bersalah menyebabkan mereka selama puluhan tahun membisu  tentang pengalaman mereka zaman perang. Perempuan yang diportret disini mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan masa kelabu mereka. Masih banyak yang tetap tinggal diam.

Para Tentara Jepang menganggap pengaturan pelayanan seks dalam bordil militer sebagai tindakan pragmatis saja, demi mencegah penularan penyakit kelamin dan pemerkosaan secara luas. Dengan alasan ini kira-kira 200.000 perempuan dari wilayah Asia yang dijajah oleh Jepang dipaksa masuk prostitusi, diantaranya 20.000 perempuan Indonesia. Ribuan perempuan lainnya dipaksa memberi pelayanan seksual sebagai nyai atau pekerja paksa.

Kokohnya tabu dihadapi fotografer Jan Banning dan wartawati Hilde Janssen. Mereka menjelajahi kepulauan Indonesia untuk mendokumentasikan sejarah para mantan jugun ianfu dalam kata dan gambar. Sebelum terlambat.

Para mantan jugun ianfu yang masih hidup jumlahnya semakin kecil, dan jarang ingin membuka luka yang lama. Upaya-upaya sebelumnya untuk menuntut rehabilitasi internasional setelah kebisuan setengah abad di Indonesia, malah ditolak oleh pemerintah sendiri. Pesannya singkat kepada para nenek: Tidak pantas membuka aib. Banyak perempuan yang sampai sekarang masih tetap mencoba menyembunyikan kejadiannya terhadap keluarga dan para tetangga. Tidak selalu berhasil. Di kampung yang kecil semua tahu siapa saja ‘bekas Jepang’. Tapi apa yang sebenarnya terjadi, jarang ada yang berani bertanya pada mereka. Sebesar-besarnya keinginan para perempuan itu untuk bisa menghilangkan jejak-jejak masa lalu mereka, namun tetap menjadi beban seumur hidup: penghinaan dan perasaan sedih, tidak adanya kerturunan akibat kemandulan dan perceraian. Para perempuan yang dipotret oleh Banning menuntut pengakuan dan pemulihan. Mereka mau membongkar lingkaran setan kebisuan dan kekebalan para pelaku, karena mereka tidak ingin anak-cucu mereka menjadi korban kekerasaan seksual. Motif motif seperti itulah yang menjadi sumber kekuatan mereka untuk mengatasi rasa malu, mengangkat wajah dan menatap dunia.

Teks: Hilde Janssen

Didukung oleh: Mondriaan Stichting, Nationaal Fonds voor Vrijheid en Veteranenzorg, Fonds Bijzondere Journalistieke Projecten.

 

 

Comfort Women

‘I so much wanted to be ugly, because the Japanese did not want ugly girls. They ugly ones were quickly sent home. I had to stay…Everybody wanted me.  They kept on coming, one guest after the other.’

Emah was fifteen years old when Japanese soldiers took her away from home. Some others were even younger. ‘Comfort women’ they were euphemistically called. Young Indonesian women, victims of forced sexual labour during the Second World War. Young girls then, they are old women now. Shame, stigma, and feelings of guilt have made them maintain silence about their wartime experiences for decades. The Indonesian women portrayed here had the courage to share their suppressed past. Many others remain silent.

For the Japanese occupying forces, the comfort women system was a purely pragmatic policy. Controlled sex in military brothels was seen as an effective measure to prevent both venereal diseases and mass rape. With this argument an estimated 200.000 women living in Asian countries occupied by Japan were forced into prostitution, among them some 20.000 women in Indonesia. Thousands more were forced to provide sexual services as concubines or daily labourers.

The taboo is persistent, photographer Jan Banning and journalist Hilde Janssen discovered as much traveling the Indonesian archipelago to record the personal histories of former comfort women in portrays, in pictures and text. Before it’s too late. The increasing smaller group of elderly survivors hardly feels the need to the open old wounds, recounting their painful memories. Earlier attempts to internationally demand rehabilitation after fifty years of silence were rudely suppressed in Indonesia: the women were admonished not to flaunt their ‘sin’. Many women still try to keep their wartime history a secret to their family and immediate surroundings. That doesn’t always work. In certain small places, everybody knows who the ‘Japanese hand-me-downs’ are. However, what precisely they had to endure hardly anybody dares to ask. As much as the women would like to erase the traces of their past, they drag it along all their lives: The humiliation and pain, their childless existence, the failed marriages. The women photographed by Banning want to be acknowledged and rehabilitated. They are willing to break the vicious circle of silence and impunity, because they don’t want their grandchildren and great-grandchildren to become the victim of sexual violence. From such motives they draw the strength to conquer their shame and look the world in the eyes.

Text: Hilde Janssen

Supported by: Mondriaan Stichting, Nationaal Fonds Vrijheid en Veteranenzorg,  Fonds Bijzondere Journalistieke Projecten.

One thought on “Pameran COMFORT WOMEN

  1. Pingback: Pameran Comfort Women (Mengungkap ‘Jugun Ianfu’ Yang Masih Dianggap Tabu) « Enggahome

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s